Potret Diri

Yang kauingin; sekulum senyum itu karar
bagai akar dadap di antara pasir pantai
di mana sepasang gelodok mencuri binar
pagi, lalu menyelam penuh damai.

Dari balik kaca, ada mata ke tiga yang
nampak menjelaga di antara kuning-jingga
cakrawala, yang entah ke mana pandang,
ke sana juga sebuah sajak bisa kaubaca.

Walau seluruhnya telah bisu
seperti sepotong doa dalam dada,
ada yang terkatakan selalu.

Duhai, kita yang beradu dalam ruang
antara, mestinya dingin musim
hanya ada di dinding sebentang.

2008

Comments

timur matahari said…
maafkan
aku ingin berguru...
ajari aku
menjadi aku (paling tidak)
atau mungkin jejak langkah
yang kau tapak
ku pijak dengan tapak ku
ajari aku
mengenal"nya"
membenamkan diriku hingga padu
sepenggal kepala (pun jadilah)
tubuhku merasakannya saja sudah cukup
sampai aku bisa perlahan menyelaminya
hingga ke ubun-ubun

Popular posts from this blog

Menerjemahkan Lirik Lagu REM secara Bebas

Terjemahan Bebas Sajak - Sajak Octavio Paz

Ruang Sastra: Puisi untuk Rohingya