Google
 

Tuesday, April 21, 2009

Kuda Putih

Larilah! Semua dada telah tikai,
segalanya, ya segalanya, pun surai
kita bukan lagi satu tubuh
seperti gema dalam gemuruh

yang membentur sebelum perlahan
menghilang. Kau dengar itu bukan?
Seakan ada yang terus berseru
kepadaku atau juga kepadamu

seperti panggilan pulang, panggilan
sayang - satu nama kecil di lidah ibu,
dan alamat-alamat dalam kenangmu

yang belum bisa hilang, yang belum tuntas
kausambangi; sebuah padang demikian luas
bagi kaki-kaki yang kehilangan sepatu.

2009

1 komentar:

thomas silvano said...

wah tukang sepatu yang canggih niy,hehe.

seneng mas maen2 kesini, mudah2an bisa sehalus ini puisi2 ku nanti!

Facebook in Google