Dua Sajak Saya di Koran Tempo, 05/04/09

Dua sajak saya, Taman Hujan dan Hikayat Mistar,
dimuat mendampingi 3 sajak TS Pinang di Koran Tempo
edisi Minggu, 05/04/09.

Taman Hujan

Kini kau pandai menanam hujan.

Di tanganmu, hujan bersulur panjang. Daunnya tunas dan hijau terang.
Matahari begitu cemburu, sebab setiap pagi dia ingin paling hijau sendiri.
Bersiasat dengan awan dan kilat, matahari mengirim hujan yang lain.
Hujan dengan tubuh yang sangat cokelat.

Kau petik juga dedaunan hujan.

Keranjangmu begitu pemalu. Setiap habis bertemu hujan, ditulisnya
sebuah catatan. Sesuatu yang - padahal - sangat ingin dia ucapkan.
Seperti yang satu ini; "Hari ini hujan tampak kelabu. Dia lupa menyemir
sepatu."

Kau pulang berkalung hujan.

Rumahmu sudah penuh hujan. Sebut saja satu per satu; kursi hujan,
meja hujan, almari hujan, bahkan kasur hujan pun ada. Tapi kau masih
merasa kehilangan sesuatu; sepatu hujan. Sebab dengan mengenakannya
kau akan bisa bertemu seorang Ibu. Ibu hujan.

2009

Hikayat Mistar

Alahai, Tuan. Kau jarakkan kami dari pohon. Dari tepi taman.
Sementara kami tak pernah memohon, tak juga menginginkan.

Maka datanglah ular. Sedepa lebih panjangnya. Kami merentang tangan.
Mendekap tidak, hanya agar tak terpegang.

Dibisikinya perempuan-perempuan kami akan sebuah niscaya,
yang sungguh-sungguh tak akan bisa kami percaya.

Tapi, beginilah yang terjadi. Kami ini lelaki. Seperti bumi.
Lubang-lubang di dada kami selalu minta ditanami.

Dan perempuan-perempuan kami adalah petani
yang sejati. Di tangannya selalu saja ada benih.

Ular itu, Tuan. Sedepa lebih panjangnya. Melintas
di depan kami. Merapatkan kami, laki-bini, hingga dia puas.

Dan tak kulihat Engkau, Tuan. Sebab kini
ada jarak mencegat kami. DariMu, dari taman ini.

2009

Comments

Popular posts from this blog

Menerjemahkan Lirik Lagu REM secara Bebas

Terjemahan Bebas Sajak - Sajak Octavio Paz

Ruang Sastra: Puisi untuk Rohingya