Dari Mong Kok sampai Tseung Kwan O

Tak ada yang bilang, kereta di sini melayani
sampai jam 1 malam. Semua mengingatkan
agar pulang jangan lebih dari jam 12 malam.

Maka jam 11, aku bergegas. Sambil mengingat
nanti di stasiun Tiu Keng Leng, harus berganti
kereta jalur ungu yang menuju Tseung Kwan O.

Ada juga yang harus diingat - tiket kereta - jangan
sampai hilang. Hanya kulihat sepasang remaja
berdiri dekat pintu kereta, berpelukan. Mungkin

juga berciuman, tapi siapa peduli? Jam begini
semua lelah dan mengantuk. Sesekali mengalihkan
pandangan ke papan elektronik tanda stasiun

yang telah dilalui dan di mana lagi kereta akan
berhenti. Tapi perjalanan hidup tentu selalu
berdenyut. Seperti cinta sepasang remaja

yang meletup-letup. Di Diamond Hill, sepasang
kekasih beda bangsa masuk kereta. Yang lelaki
Kaukasian, yang perempuan jelas Cina. Mungkin

baru kencan usai kerja. Tapi di Kwun Tong, mereka
berpisah. Si Kaukasian meninggalkan Si Cina. Dan kudengar
seorang berkata,"Kok tidak diantar sampai rumah, ya?"

Tak terasa, sampailah di Tiu Keng Leng. Aku harus
berganti kereta menuju Tseung Kwan O. Antara lelah
dan mengantuk, perjalanan dengan MTR seperti

mencatatkan cinta dengan caranya sendiri. Dengan
kebiasaan dan suasana yang berbeda, sedang aku
hanya mengingat cinta dengan hal-hal sederhana

seperti boneka tangan dan mainan yang dipesan
anakku, kaos-kaos bertuliskan Hong Kong aneka ukuran,
dan berkantung permen coklat. Bingkisan dari perjalanan.

2013

Comments

Popular posts from this blog

Menerjemahkan Lirik Lagu REM secara Bebas

Terjemahan Bebas Sajak - Sajak Octavio Paz

Ruang Sastra: Puisi untuk Rohingya