Seusai Badai di Causeway Bay

Setengah jam dari Kowloon East, langit
masih gerimis. "Badai sudah sampai di
Daratan," Begitu tajuk koran, tapi di
Causeway Bay orang tak peduli itu lagi.

Di sebuah pasar dengan deretan kios
penjual suvenir, piyama, dan kaos,
aku menawar tas belanja,"Seratus sepuluh,
lima?" Si penjual memencet kalkulator - 115.

Kadang, cinta tak peduli beda bahasa.
Bahkan tak peduli juga jarak antar negara,
"Ibu saya baru datang dari Jakarta." Seorang
perempuan muda berkata. "Dia kerja
di Konsulat. Sudah lama tak berjumpa."
Sahut Sang Ibu, bangga.

Sekitar pukul tiga, aku masuk gerai Ikea.
Tentu saja, tak akan kubeli selembar meja.
Di rak boneka, kutemukan kata Indonesia
lebih banyak dari Swedia. Bangga? Mungkin saja.

Sebab di seberang jalan, di Taman Victoria
ada lebih banyak orang Indonesia. Di sana,
kami duduk melepas lelah. Bertukar tanya;
"Apa kata keluarga di Pulau Jawa tentang
badai yang kemarin melanda?"

Diam-diam, aku merasa cemas. Sejadi-jadinya.
Di Causeway Bay, rasanya tak ada yang peduli
pada kata dan cinta, selain pada angka-angka.

2013

Comments

Popular posts from this blog

Menerjemahkan Lirik Lagu REM secara Bebas

Terjemahan Bebas Sajak - Sajak Octavio Paz

Joko Pinurbo: Seperti Bermain Bola, Hidup itu Bertekun dan Riang