Seri Penulis : Guntur Alam "Hidup seperti sebuah Permainan Menuju Titik Akhir"

Bagaimana cara Anda memandang hidup Anda saat ini?

Saya sendiri tidak tahu bagaimana saya memandang hidup saya ini. Saya menjalaninya saja, saya sedikit ambisius tetapi juga pasrah pada hasil. Selayaknya game kali ya. Selalu ada rintangan dan saya harus bersiap dengan taktik dan trik. Tapi pada titik-titik tertentu, saya mengikuti saja iramanya. Seperti terjebak di pasir isap, jika berusaha sekuat mungkin, kita justru semakin diisap, jadi saya akan diam, dan bila waktunya sudah pas, saya akan memulai.


Intinya saya seseorang yang menganggap hidup adalah sebuah perjalanan (game) menuju titik akhir. Sepanjang jalan, akan ada rintangan dan saya harus bersiap jika ingin sampai ke titik akhir dengan predikat pemenang. Jawaban saya makin ngawur.

Sejauh mana Anda memandang cinta dalam hidup Anda?

Cinta? Haruskah saya menjawab pertanyaan ini. Cinta itu terlalu luas dan saya tak tahu harus memandang pada titik mana saja. Oh, Tuhan.... Saya selalu terjebak dan mendadak bodoh bila ada pertanyaan seperti ini. Semoga saja tak ada calon mertua yang menanyakan ini pada saya kelak.

Mungkin bagi saya cinta adalah memberi, membagi, dan berkorban. Seperti yang sudah ibu saya lakukan pada anak-anaknya. Itulah cinta. Semoga jawaban ini benar. Tak ada teman untuk ditanya, walau tak ada pengawas ujian. Oh, saya baru ingat. Ini bukan UAN, jadi saya tak perlu khawatir tak lulus dalam 10 pertanyaan ini.

Dalam hal apa cinta bisa dituangkan dalam karya-karya Anda?

Tuhanku… ternyata masih ada pertanyaan tentang cinta. Apa boleh saya mengerjakan tugas aljabar saja?
Saya tak memerhatikan secara khusus, tapi bila di dalam cerita pendek, kebanyakan cinta yang saya tuangkan adalah cinta yang kelam dan penuh luka. Kebanyakan lagi tentang perempuan dan anaknya yang terluka oleh suami-ayah mereka. Atau tentang cinta-kelam antara seorang perempuan dan laki-laki berengsek dalam hidupnya. Sebagian besar cinta seperti itu. Jangan tanya alasan kenapa, karena Anda pasti tahu.

Jika di dalam novel terutama remaja, saya lebih suka membahas tentang cinta pertama, cinta terpendam, cinta sepihak, cinta bertepuk sebelah tangan, dan cinta-cinta yang menyakitkan tapi tetap ingin dikenang. Bila Anda mengatakan, itu kisah pribadi Anda? Saya tidak akan mengiyakan, saya hanya akan berkata; masa remaja saya kurang bahagia. Saya melewati sebagian besar masa remaja saya dengan bekerja. Jadi saya ingin menikmati masa remaja itu dalam cerita. Semoga Anda tak tertawa mengetahui alasan ini.

Ingin dikenang sebagai apa Anda oleh orang lain dalam kehidupan ini?

Tentu sebagai orang baik. Normatif ya. Hahahaha… saya ingin dikenang sebagai penulis cerita yang membuat orang lain bahagia dan tercerahkan dan tertawa dan menangis dan terdiam dan memaki dan segala rasa lainnya. Kadang-kadang saya memaki penulis favorit saya ketika dia bisa menuliskan sesuatu yang ‘berat’ bagi saya dan ternyata sangat enteng serta ringan dia tuliskan. Bukankah itu menarik? Saya ingin dikenang seperti itu oleh orang lain, terutama pembaca saya.

Apakah Anda sering berkontemplasi? Seringnya tentang apa?

Sering. Seringnya tentang hakikat hidup: apa yang saya cari dalam hidup? kebahagiaankah? jika iya kebahagiaan seperti apa? lalu saya tak bisa menjawabnnya sendiri.

Lain waktu saya akan bertanya lagi: apa yang sudah aku perbuat dalam hidup, untukku, keluargaku, orang-orang yang kucintai, atau orang banyak? pada akhirnya saya pun tak bisa menjawab.

Mungkin pada satu sisi saya seseorang yang suka merumitkan sesuatu, tetapi pada sisi lain, saya suka hidup apa adanya dan tak memikirkan apa pun. dua pribadi yang bertolak belakang, kan? jangan heran, banyak pribadi dalam diri saya. mungkin itu kutukan untuk seorang penulis.

Tempat di dunia ini yang ingin sekali Anda datangi dan kenapa?

Sebagai seorang muslim, saya tentu ingin sekali mengunjungi 3 kota suci umat Islam: Mekkah, Madinah, dan Palestina (Yerusalem). Alasannya ya tentu saja untuk sebuah perjalanan spiritual.

Tetapi bila boleh memilih selain 3 kota suci itu, saya sangat ingin suatu saat nanti bisa menjejakkan kaki di Kota London. Sejak kecil saya sudah berkenalan dengan buku-buku cerita dari penulis Inggris seperti serial Lima Sekawan, Sapta Siaga, Pasukan Mau Tahu. Kemudian Agatha Cristie dan JK. Rowling saat saya remaja, serta beberapa penulis Inggris lainnya.

Saya terkadang sulit menghapal nama orang, tetapi mengingat cerita di bukunya. Ya, ini kelemahan saya sejak dulu, susah menghapal nama orang dan menghapal rute jalan. Saya rasa ini tak ada hubungan dengan pertanyaan nomor enam ini.

Siapa tokoh yang paling berpengaruh dalam hidup Anda? Mohon bisa diberikan alasannya.

Sebenarnya banyak sekali orang-orang yang berpengaruh dalam hidup saya. Terutama saat saya melewati beberapa momen dan fase berat dalam hidup. Tapi bila yang ditanya 1 orang, saya akan menjawab ibu saya.

Ibu saya seorang janda dengan 4 orang anak dan beliau tidak menikah lagi sejak bapak meninggal. Lewat kerja kerasnya semua anak beliau bisa sekolah, dua di antaranya bisa menempuh pendidikan sampai di bangku kuliah, salah satunya saya.

Saya pikir tak banyak perempuan kampung yang “sehebat” ibu saya, terutama bila melihat masa-masa yang beliau lewati saat itu.

Jam berapa biasanya Anda mulai menulis? Ada alasan tertentu mengapa Anda menentukan jam menulis?

Saya nggak punya waktu khusus sih untuk menulis. Masih acak-acakan dan suka-suka saya. Akan tetapi akhir-akhir ini saya lebih suka menulis saat pagi, sekitar pukul lima. Suasananya hening dan tenang, otak juga terasa segar sehabis bangun tidur. Selain itu saya suka menulis beberapa jam sebelum tidur. Entahlah ini terdengar aneh atau tidak, tetapi saya suka melakukannya.

Bila saya menulis novel, saya akan berhenti tepat di bagian yang menurut saya sangat menarik dan justru membuat saya ingin terus melanjutnya. Tetapi saya justru berhenti dan akan melanjutkannya besok. Begitu juga dengan cerpen, saya sering berhenti ketika ceritanya mencapai puncak. Tentu Anda bertanya kenapa? Jawabannya agar besok saya masih punya semangat untuk nulis –mood saya sedikit buruk dan bila sedang badmood agak lama untuk mengembalikannya. Agar saya tidur tidak terlalu pulas dan bisa bangun pagi karena masih gregetan dengan cerita yang belum usai. Agar saya bisa merekam bagian yang menarik dari cerita saya, sebab kata orang otak membentuk memori dan menyimpannya pada beberapa hal menarik sebelum kita tidur malam. Aneh, kan? Namun saya menyukainya.

Bagaimana Anda membagi waktu antara menulis dan hal-hal lainnya?

Saya sering menciptakan deadline sendiri agar bisa fokus –kadang-kadang memang diberi deadline oleh editor. Dan saya berusaha mematuhinya. Seperti tadi, pagi saya menulis, siang saya melakukan aktivitas lainnya, sore membaca buku, malam sebelum tidur menulis lagi.

Jika terlalu monoton dan bosan? Saya sering menjungkir-balikan posisinya. Atau saya pergi nonton ke bioskop, beli dvd dan nonton seharian, kumpul dengan temen bila BT. Saya rasa tak ada pembagian khusus, semua suka-suka dan kacau. :D

Jika hidup Anda akan difilmkan, kira-kira siapa tokoh (aktor / aktris) yang Anda inginkan untuk memerankan Anda? Mengapa?

Aduh, siapa ya? Saya tidak pernah membayangkan jadi aktor, juga tak mengidolakan aktor mana pun. Kalau filmnya bagus menurut teman-teman, ya saya akan nonton dan akan menyukainya bila terbukti bagus. Tetapi saya cukup suka dengan Jhony Deep –apa penulisan namanya benar? Saya selalu salah dalam mengeja nama orang.

Alasannya Jhony Deep terlihat konyol, sedikit gila –mungkin, sedikit pecicilan –mungkin, pokoknya seperti karakternya di film bajak laut itu. Hahahaha… walau terlihat menjijikan, konyol, dan ya kamu tahu… tapi dia tetap keren dan lucu.

Comments

Popular posts from this blog

Menerjemahkan Lirik Lagu REM secara Bebas

Terjemahan Bebas Sajak - Sajak Octavio Paz

Ruang Sastra: Puisi untuk Rohingya