Posts

Rekuiem #6

Apakah mendung memayung di suram mata atau ini lapisan duka yang tak dapat kubuka? Hanya airmata akan menjernihkannya. Aku pelayat. Tak tamat mendengar iqamat. Terburu menabur bunga ke atas pusara. Telekung hitamkah menudung kepala atau semata selubung luka yang tak sanggup kulukar? Adalah jari maut yang lembut menautkannya kembali. Aku tak pantas kausebut peziarah : mereka yang berserah. Pulang terlebih dulu, sebelum tujuh langkah terbilang. 2010

Rekuiem #5

Kami yang hidup : menyalakan lilin, membarakan segenap ingin, agar jiwa ini tak gampang redup. Kami tahu : kau hanya mati sekali. Seperti mimpi saat aku berjaga senantiasa sebelum pagi. Dan sebelum tertidur, kami bernyanyi: memazmurkan kau yang abadi. 2010

Rekuiem #4

Peti mati itu : tubuh baru untukmu, yang mandi airmata dan taburan bunga mawar & melati. Liang lahat ini : kamar tidur paling sepi, tidak ada lagi deru sepeda motor ngebut lewat mimpi. Lalu nisan adalah weker yang berdering tanpa henti. Mengingatkan kelahiran, perpisahan, kepergian, dan kenangan yang tertidur di sini. 2010

Memanggungkan Keterbatasan, Memunggungi Kelemahan

Layaknya menonton film, saya pasti mencari nilai-nilai kehidupan yang unik dan universal bagi saya pribadi, juga mencari hal-hal yang menjadi titik pembeda dari sekian banyak film yang sedang diputar pada saat yang bersamaan. Beberapa waktu lalu, saya membawa keluarga dengan maksud menonton film animasi yang menjadi box office, namun lantaran tiketnya ternyata laris manis, akhirnya saya harus memutuskan antara film animasi lainnya atau film adaptasi novel karya anak negeri yang juga banyak direferensikan untuk ditonton. Alih-alih menonton film yang terakhir, dengan pertimbangan "selera anak" akhirnya saya memutuskan untuk membeli tiket film semi-animasi yang mengisahkan tiga ekor tupai! Mungkin, orang lain akan mencibir pilihan saya. Permasalahannya adalah saya tidak menonton seorang diri. Anak saya yang masih balita tentu tidak bisa mencerna film nasional adaptasi novel itu dengan pikiran kanak-kanaknya. "Bahasa"nya pasti berbeda. Dan bagi saya, akan lebih mudah ...

Rekuiem #3

Tanah pekuburan masih diakrabi sepi, lalu lamat-lamat kau lihat di bagian bawah batang cemara sekumpulan lumut mulai menyemut; seperti pelayat dalam perkabungan tak rampung. Mendung mengembangkan payung, aku memegang tubuh yang terhuyung ; hampir tujuh langkah aku hitung. Betapa berat dan limbung menyajakkan kematian, karena di setiap kalimat ada nafas tersengal, ada tangis yang bakal, dan rasa damai - yang jauh tertinggal - di rumah-rumah doa belaka. Berjalan di belakang keranda, Sang Pembawa Nisan : dia yang pertama kali membaca kesalahan ejaan. Tanah pekuburan - di saat seperti ini - akan semakin menepi, mempersilakan kita berduka sepuas hati. Agar seperti doa kerelaan yang dibaca di akhir acara, sekumpulan lumut di bawah cemara mulai menumbuhkan spora. 2010

Rekuiem #2

Punggungmu tak lagi bisa kukenali. Seperti tangan menengadah, kau hanya menampakkan wajah - tapi bukan memandangku, hanya pada awan seakan ke sana lah engkau akan melangkah. Kau tak tersenyum, kali ini. Bibirmu membeku, seakan percakapan ini sudah seharusnya berhenti. Namun tangisan jadi bahasa yang paling jitu, di saat segala kata tak lagi berarti ( Ah, seharusnya kau mengerti! ) Hanya sunyi berulangkali lahir dan mati, sebagai penepuk-nepuk punggung yang lelah, sebagai penyeka airmata di kedua pipi, atau sekedar merapikan raut wajah. 2010

Rekuiem #1

Sebentar lagi, sebuah obituari kutulis dengan tinta hijau : ada namamu dan namaku - tak peduli siapa yang pergi, dan yang ditangisi - juga nama-nama mereka yang sedang berduka. Sebentar lagi, kau dan aku tak lagi berkata dengan suara parau : hanya berbisik, seakan di sini hanya ada kita berdua dan larutan kesedihan yang teramat penuh, begitu jenuh di udara. Lalu, kita tandai hari ini dengan wajah yang berbeda : yang serupa wajah dalam foto di depan keranda. 2010