Posts

Untuk Sebuah Kepergian

Image
Hari pasti larut dalam kenangan, tanpa sedikit pun kita dapat melihat ia berenang dan meluncur di sela karang itu. Karang yang hitamnya mengingatkan pada sesayat tangisan yang menahanmu dari belakang pintu. Kepergian selalu menyakitkan – jerit dia yang berambut basah dan lembut, seperti sebuah danau di lengkung kabut, tempat hari-harimu larut. 2013

Dirisaukan Rindu

Dengung itu sudah lepas dari dinding? Dia masih di situ selama belum ada ingin yang ikhlas pada kenyataan bahwa tidak hanya dari jendela, cahaya itu merengkuhmu. Aku terkadang kuatir, kita dirisaukan rindu. Tapi bukankah apa yang kau rasa sampai juga di dadaku? Lalu pada suatu pagi, kau memandang jendela – berharap seseorang melangkah dengan tergesa, seperti takut ada terluput, atau seakan ingin mengulang mengucap dan mengecupkan kata perpisahan? 2013

Mendadak Ada yang Jatuh

Mendadak ada yang jatuh. Seperti sebuah pertanyaan - sempatkah kau mengaduh? Karena awan pun tak sempat berpamitan dengan langit, saat ia turun dalam hujan itu. Paling-paling kau melihat wajahnya yang murung, mengembangkan payung, lalu buru-buru melangkah   - menjemput dirinya yang nyaris telat. 2012

Sebuah Komposisi

  Malam menghadap jendela. Bunga-bunga hujan melekat di wajahnya. Jarimu lincah memainkan Flight of the Bumble-Bee . Dan seperti ada yang mendengung. Kurasa - begitu dekat. Kuraba: tak ada di jari-jarimu yang menekan-nekan tuts Kawai . Ah! Mungkin kau bersenandung. Sekedar memecah hening, atau memang benar kau ikuti nada-nada itu, supaya jari-jarimu bisa meraba dan meraihnya – lalu seperti menebarkan jaring – mereka tak bisa lepas dari komposisi yang kau mainkan itu. Komposisi yang menceritakan betapa hidup adalah perjuangan sekaligus perlawanan atas keputusasaan meskipun kita lemah atau dianggap lemah oleh lawan. Meskipun kita hanya lebah, bertahan dari bunga ke bunga. Lari dari padang ke dalam hutan. Agar tak sampai terjebak oleh angin dan hujan yang kembang, yang melekatkan sesuatu di sebuah jendela, saat malam meremang. 2013

Yang Tumpur lalu Menghilang

Selama wajah danau masih tabah dihujani panah-panah cahaya dan hanya sekali-kali mengibas ke arah dedaunan talas, selama itu pula rindu mengerut-mengendur dari arah pos jaga di bawah bukit itu sampai pada sebuah kelokan yang engkau kira, aku akan menoleh ke belakang sambil melambaikan tangan dan mungkin – jika kau ingin – memanggil namamu ke arah angin. Lalu kau akan balik berlari padaku? Ya, bisa saja begitu – karena aku tak enggan pada rerumputan itu, tak malu untuk mengakui bahwa ada yang tertinggal dari sebuah pertemuan. Yang baru saja kuketemukan dalam diri setelah merenggang-melupakan pelukan. Ya, aku akan berlari kepadamu – dan lebih dari itu - ke dalam dirimu, seperti yang debur di tubuh danau itu, yang tumpur lalu menghilang dari pandangmu – hingga kau bertanya: Kaukah itu yang datang? 2012