Kuhabiskan Pulsa Telepon Genggam Demi Pulasnya Mimpi Kenangan

O, Kekasihku, pergilah ke Jakarta atau ke tempat
paling jauh dari jangkauan mataku. Lalu berdiamlah
di ujung kabel telepon.

(“Meneleponlah Kekasih!”, M. Aan Mansyur)

Kenangan, entah bagaimana caranya, terbangun
dari tidurnya. Mengetuk kepala saya yang setengah
mengantuk dan meracau di telinga seperti
siaran radio yang dikacaukan hujan. Dari balik
larik-larik puisi, mata saya melirik padanya.

Aku ingin pergi, atau setidaknya, keluar dari sini!

Saya tahu, bahkan sangat tahu, kenangan itu
yatim piatu. Bahkan tak seperti sepatu, yang
tiba-tiba tanpa diminta, lahir kembar.

Melihat saya cuma manggut-manggut,
wajahnya makin cemberut. Sepertinya,
keinginannya sudah tak tertahan lagi.
Tapi bagaimana caranya dia bisa pergi?

Saya sodorkan telepon genggam, barangkali
ada sanak saudaranya yang ingin dihubungi.
Sambil tetap cemberut, telepon genggam itu
dia rebut dari tanganku.

Berapa sisa pulsamu? Aku ingin mendengar
suara kekasihku yang dulu pernah kutinggalkan
di sebuah perahu tanpa layar, tanpa jangkar.

Kedengarannya sangat kurang ajar, bukan?
Tapi demi keinginannya, saya biarkan saja dia
menekan nomor mantan kekasihnya itu.

Halo, ini aku. Masih ingat suaraku? Tidak?
Ah, kudengar suara ombak. Apa? Kau masih
tertidur di geladak kapal itu? Wah, hebat!
Kau tahu? Kau terlunta di lautan, aku tenggelam
dalam harapan. Sama-sama kebingungan, bukan?

Masih membaca sajak, saya mendengar dia berteriak;

Ini malam sungguh terkutuk! Aku kini mengantuk.
Bagaimana jika aku tidur sebentar dalam ingatanmu?

Saya mengira dia masih bicara dengan mantan
kekasihnya itu, atau bahkan diajak kembali berkencan.
Pantas dia merutuk demikian rupa, temukan sesuatu
yang tak terduga sama sekali olehnya.

Dalam erat peluknya, telepon genggam
menangis kehabisan pulsa. Saya hanya bisa

beri isyarat mata; “Tak mengapa, ada kalanya
kita melepas rindu hanya dengan diam.

2007

Comments

Popular posts from this blog

Menerjemahkan Lirik Lagu REM secara Bebas

Terjemahan Bebas Sajak - Sajak Octavio Paz

Joko Pinurbo: Seperti Bermain Bola, Hidup itu Bertekun dan Riang