Ayah Senja

: Hasan Aspahani


1/
Aku dan Ibu sedang berleha di beranda,
saat Ayah Senja datang tiba-tiba.


Kukira, dia datang di hari petang, Ibu bilang,
"Ini sudah ambang malam."


Dan - tadi - dari jauh kudengar dia mengaduh,
tapi kata Ibu, "Itu suara langkahnya yang gaduh."


Aku dan Ibu bersilang pendapat dan berharap
Ayah Senja segera sampai untuk melerai.


2/
Di kejauhan, rambut Ayah Senja mirip langit hampir hujan,
dan wajahnya serupa daun yang gugur. Kali ini Ibu dan
aku sepemikiran: Ayah Senja sudah sangat kelelahan.


Aku bergegas hendak ke dapur, menyiapkan secangkir
kopi untuk Ayah Senja, tapi sebelum melangkah, Ibu
memberi titah,"Tolong ambilkan sapu, Nak!"


Ketika aku kembali ke beranda, Ayah Senja sudah tidak
ada. Hanya ada dua butir airmata - yang tampak sangat
bahagia - duduk dan tunduk di pipi Ibu.


"Kemana gerangan dia, Ibu?" Ibu tak segera berkata,
hanya tangannya memungut dua butir airmata yang
hampir jatuh dari pipinya dan memberikannya padaku.


"Pergilah ke kamarmu dan simpan airmata-airmata
pemberian Ayah Senja ini di bawah bantalmu."


3/
Di dalam tidurku, aku bermimpi:
Aku bertamu ke sebuah rumah dan melihat sepasang
kekasih sedang duduk mesra di beranda.


Yang wanita aku tak tahu siapa, tapi yang pria
mirip sekali dengan Ayah Senja. Lalu ada dua anak
bermain bola.


Melihat aku datang, Ayah Senja berdiri menyambut
dan memperkenalkanku dengan dua anak itu:


"Mereka anak-anakku. Kau boleh memanggilnya:
Adik-Adik Senja."


2012

Comments

Aku Tilarso said…
saya titip salam buat Bang Hasan, mas kalau sampeyan berkomunikasi dengannya.

Blog nya sudah agak lama ia tinggalkan dan ruang komentarnya juga dikunci, twitternya pun ia sepikan dari pengikut dan yang diikuti. mungkin ia sedang sangat sibuk sekarang.

saya berharap ia sehat-sehat saja. Tolong ya mas Dedy sampeyan salam hormat saya padanya.
Dedy Tri Riyadi said…
siap mas ...

Popular posts from this blog

Menerjemahkan Lirik Lagu REM secara Bebas

Terjemahan Bebas Sajak - Sajak Octavio Paz

Ruang Sastra: Puisi untuk Rohingya