Mabuk Kota


Kota melabuhkan ikan-ikan dari teluk
dan membawa suasana mabuk di ujung tengkuk.

Kota menjatuhkan jutaan kutuk
di lipatan ketiak, di limbahan yang mengubah bentuk.

Kota juga memaksa engkau masuk,
memilih berdiri atau berdesakan untuk duduk.

Meski kau bertahan, berjalan membungkuk,
tapi kota tak juga mudah untuk kau buat tunduk.

Dia tetaplah kota -- tempaan kata-kata busuk.
Baja dan beton saling menusuk. Dan seekor pelanduk

adalah dia yang rela mati di gubuk-gubuk
sekeliling telaga yang hendak jadi waduk.

2015

Comments

Popular posts from this blog

Menerjemahkan Lirik Lagu REM secara Bebas

Terjemahan Bebas Sajak - Sajak Octavio Paz

Ruang Sastra: Puisi untuk Rohingya