Posts

Mata Kata Membaca

Mata kata membaca garis hujan di jendela. Sesekali dipandangi pula kilat kecil nan lincah menari. Mata kata menala baris kehidupan di bawah hujan. Disadari betapa telat memahami salah letak hidup dalam puisi ini. 2015

Tanpa Cela

Bunga mementaskan warna ke hadapan mata kata. "Ini dukaku, buatlah peringatan atasnya," dia meminta. Embun meneteskan luka ke ribaan kata. "Ini rinduku, minumlah. Dan kau tak akan merasa haus lagi." Begitu saja. Tangan kata menggerakkan dunia. Daun-daun menggidikkan aku tanpa cela. 2015

Nyanyian Sang Dara

Aku percaya bahwa cinta mudah dimengerti meski dari cahaya merah cakrawala. Matahari tak pernah benar-benar hilang. Pada lantai langkan jejaknya tak henti menegaskan kenangan. Waktu hanya lintasan cahaya. Kita ruang remang. Tak ada yang bisa bertahan selamanya. Nyanyian pada teguh karang sia-sia adanya. Lonceng kapal tak menyahuti menara suar. Janji juga mudah batal. Yang kudekap rindu bercekak. Bayang sarang di pucuk cemara di mata camar. Perjalananku gelepar ikan di ujung paruhnya. Begitu terang akhir kisah. Begitu nyalang kekhawatiranku. 2015

Angin

Angin yang menebarkan duka di punggung pintu, ujar Jendela. Angin pula yang menaburkan kata-kata tak menentu di beranda. Bukan! Bukan aku! Bunga-bunga memawarkan aku. Hingga semua seolah menawarkan makna, jeritnya mencabik sepi di telingaku. 2015

Pigura

Kesepian seperti angin menitip debu di pigura. Sekarib pura-pura melekat pada kenangan. Tak mengarah pada cerah, tak juga menemu kabut abu-abu. Baik kau maupun aku adalah lukisan. Luka sebaik-baiknya kiasan. Walau cacat, walau buruk, tetap terlihat, tak akan jadi remuk. Hanya cahaya pagi seperti membagi perhatian. Ada yang mempertegas ingatan, dan ada yang menggegas kealpaan. 2015

Pergi Memancing

Kata begitu tenang. Menunggu di dasar kolam. Tapi kau bukan joran. Melainkan lidah panjang peradaban. Yang menjulur dari mulut dan gigi-gigi masa. Aku percik ludah. Sebentar mampir di atas pasir. Kata terlalu remang. Lumut dan ganggang di dasar kolam. Tapi kau bukan senar. Melainkan tangan dan pikiran. Yang bersatu padu pada bahasa. Aku gas metana. Menguap tanpa bisa ditangkup. Kata adalah gelombang. Adalah ikan. Adalah kolam. Tapi kau bukan pemancing. Sejak dilahirkan, kau orang lapar. Menunggu dipuaskan sebelum bisa berhenti tiba-tiba. Aku daun keladi. Air yang kurindu semacam keputusasaan. 2015

Belajar Bernyanyi

Kata memberikan diri pada suara. Gaung purba itu. Kita memberanikan diri bersuara, "Ayang-ayang gung..." Ditanamkan yang ingin dipetik setelah tumbuh. Ditenangkan mereka yang ingin memekik-- Duhai, Priyagung! Pada petang hari, kanak-kanak belajar bernyanyi pupuh. Padahal, kita mengenang betapa tamak yang tak ingin ditundung. Kekuasaan seperti kering keringat di leher baju. Kita tak bisa merasakan, hanya kadang melihat dengan canggung. Lalu kita belajar bernyanyi dengan suara paling merdu. Dan sejarah hanya bicara yang tak wajar di hulu Ciujung. 2015