Pada Suatu Masa, Kita Paus yang Tertipu Ombak

Di teluk, pada ombak yang merasa takluk,
kita adalah mahluk pemabuk. Sepasang
paus bungkuk.

Usai pelayaran panjang, deret kapal dengan
lambung hitam, kita merasa limbung, bukan?
Hingga di teluk, kita menipu diri.

Merasa jadi mahluk paling malang, tak bisa
berenang. Kepala dan ekor ganti timbul tenggelam.
Dan dari kejauhan orang-orang melihat dengan riang.

Karena kemunculan kita adalah pemandangan
langka. Apa yang kita punya seolah pemuas
prasangka. Sampai nanti, ketika kita lelah,

di pantai yang landai, bangkai-bangkai kita
ditertawakan mereka. Dijadikan kenangan,
bahkan sebagian dari tubuh kita dijadikan

kenang-kenangan. Di teluk, di mana burung-
burung itu hibuk, kita jadi mahluk terkutuk.
Ditipu suara-suara ombak yang seolah takluk

oleh kebesaran kita.

2014

Comments

Popular posts from this blog

Menerjemahkan Lirik Lagu REM secara Bebas

Terjemahan Bebas Sajak - Sajak Octavio Paz

Ruang Sastra: Puisi untuk Rohingya