Dongeng yang Bermukim di Matanya

1.

Malam mengantuk sejak kita duduk
di beranda. Udara semakin mirip
poster pilkada.

Kau mengangsurkan teh jahe,
tapi ada semacam sisa kristal gula
pada bibirmu.

2.

Aku tak lagi merokok. Namun,
percakapan seakan asap yang
terhambur dari luka jendela

yang tiba-tiba menawarkan
rencana liburan - berdua saja

Lantas kurasakan ada yang lepas
seumpama deras desir angin pantai
dengan warna daun kelapa - padahal
tinta malam masih pekat, masih melekat
di matanya.

3.

Kita merapatkan badan dalam
sebuah genggaman tangan. Berharap
pada suatu pantai, di suatu pagi, kita lah
mereka yang tersisa dari kapal yang karam.

Tapi kita tak lagi bebas, seperti
sisa panas yang tumpas dari secangkir
teh jahe itu.

Amboi! Kusaksikan ada sebuah dongeng
tentang pulau yang menghimbau sepasang
petualang untuk terdampar dan bermukim
di matanya.


2011

Comments

Usup Supriyadi said…
di matanya, ada anak-anakkah?
hingga dongeng begitu senang bermukim di situ?

hihi

selalu suka :)u
Dedy Tri Riyadi said…
saya kebetulan saja menemukan frasa itu "dongeng yang bermukim di matanya" selanjutnya pengembangan belaka...
kampung-puisi said…
wah, merapatkan badan kayaknya enak tuh, mas...

Popular posts from this blog

Menerjemahkan Lirik Lagu REM secara Bebas

Terjemahan Bebas Sajak - Sajak Octavio Paz

Ruang Sastra: Puisi untuk Rohingya