Pada Mulanya Adalah Nyanyian




Pada mulanya adalah nyanyian,
cakrawala terbuka di kaki langit,
kesiut angin laut, dan suara karang
dihantam gelombang.

Nyanyian itu digemakan guha-guha,
direnung gunung dan bukit, tapi selirih
suara satwa yang telah disembelih,
dan dikorbankan di atas altar.

Dia diulang-ulang dalam sembahyang,
sebagai nama-nama tuhan, yang dikenalkan
dan dikekalkan aneka kitab dan mantra.

Dizikirkan para peziarah, yang zuhud,
yang mabuk cinta. Yang lupa pada usia,
dunia, dan peristiwa-peristiwa yang
berkelindan pada pagi dan petang.

"Baiklah, kita tidur sebagai bayi saja,"
katamu dalam tangis yang manja. Tangis
yang timbul setelah kita tak mampu lagi
bicara tentang pahlawan, pedang, atau raja.

Padahal tadi, aku hendak bernyanyi
memuji Dia, karena sejak awal tak ada
bagiku yang lain selain nyanyian kemenangan.

Nyanyian yang dikutuki para pecundang,
digelorakan para serdadu dan pengasah pedang.

Sebab, pada mulanya memang hanya ada nyanyian,
suara-suara yang didengar dari atas tembok kota,
dari menara-menara jaga, dan kubu perbatasan
yang tak pernah bisa dimasuki seorang diri.

2011

Comments

Usup Supriyadi said…
dan tuturan ini
begitu nyanyi :)

salam puisi :)

Popular posts from this blog

Menerjemahkan Lirik Lagu REM secara Bebas

Terjemahan Bebas Sajak - Sajak Octavio Paz

Ruang Sastra: Puisi untuk Rohingya