Pertanyaan-Pertanyaan Untuk Perenang


1.
Tiga hasta ke depan,
kau tetap meraba.
Sebab kau nir warna.
Laut pun tak bersuara.
Dia dinding dingin
dan tali direntangkan
dari akan ke sampai.
Selebihnya suwung.
Karena itu kau limbung,
menimbang arah
samudera atau
hanya sejangkau
menara.

Tiga hasta ke depan,
kau kadang merasa:
hidup seperti 'slulup'
tanpa oksigen yang
cukup.

2.
Menjelang gerimis,
kau merasa gerah.
Merasa ingin mengoyak
jubah. Tapi September
masih empat bulan lagi,
dan di sini tak ada winter.

3.
Laut, cakrawala bagi
burung di udara. Tapi --
tembok tebal bagi bawal
dan gurita. Kau peraba
sempurna -- hendak
menggapai segalanya.

4.
Rasanya percuma
bercumbu di geladak,
jika tak melihat bintang
di ufuk jadi cemburu.
Rasanya percuma
terlalu memikirkan
perasaan temali dan
layar, bukankah tak
lagi ada cinta di sana?

5.
Hidup memang sejumlah
perkiraan: sepuluh, atau
seratus, bahkan seribu
kemungkinan. Tapi --
perjalanan tidak bisa
diakhiri sebelum menemu
arti. Dan jika kau berhenti,
laut tetap membawamu
menepi.

6.
Sejak kau jadi peraba,
kau tak perlu lagi berkaca.
Laut tak perlu seorang pesolek,
batuan karang tak mau lembek.

7.
Suatu hari, di akhir Mei,
pada teluk yang tropis,
berenanglah
angan seorang utopis.

Dia yang ingin menyeberang
dari satu pulau ke lainnya,
bahkan terbang lebih tinggi
dari menara suar.

Dia yakin sekali: pada
biru ganggang dan kelam
akar benalu ada yang terang
seperti cahaya api itu.

Api yang dulu
dinyalakan oleh
kata-kata di suatu
halaman buku.

2015

Comments

Popular posts from this blog

Menerjemahkan Lirik Lagu REM secara Bebas

Terjemahan Bebas Sajak - Sajak Octavio Paz

Ruang Sastra: Puisi untuk Rohingya