Seri Puisi : Kau Kuasai Kanvasku

Potret Diri

Dia melukismu sebagai sesuatu yang tak bakal tua. Sebagai langit menyala. Sebagai tenung bagi teruna. Sebagai pohon dengan cabang sederhana. Sebagai rimbun dukana. Sebagai sungai dengan nafsu ke utara. Sebagai bisu yang bisa berbahagia.
Dia mendudukkanmu di tengah sebagai menara. Sebagai kilat pedang di udara. Sebagai tahun-tahun berburu dan menderita. Sebagai apel busuk di sudut meja. Sebagai lidah terjulur cendekia. Sebagai bangsa berwarna tanpa senjata. Sebagai perahu di tepi dermaga.
Dia selalu ingin membuatmu memesona. Sebagai sebuah tamasya. Sebagai kelinci di saku celana. Sebagai doa seorang hamba. Sebagai sembilan ekor koi di muka telaga. Sebagai langkah tertahan seorang perwira. Sebagai delapan kuda memercik ujung samudra.
Dia membagi senyum dan pandanganmu ke segenap penjuru. Sebagai hasrat. Sebagai halus ujung kuas mendarat dan menyapu beragam warna. Sebagai tanda untuk dirinya -- suatu saat. Sebagai mukjizat. Sebagai sesuatu yang kerap membuatmu terperanjat dan berpura-pura: tak ada sesiapa.

2016


Self Potrait


She paint you as something that never grow old. As a flaming sky. As a magic to the youth. As a tree with simple branches. As a lush of sadness. As a river with passion to the north. As a silent that can be happy.

She put you in the middle as the tower. As gleaming sword in the air. As years of hunting and suffering. As rotten apple in the corner of the table. As a hanging out tongue of the clever. As the colored people without weapons. As a boat on the dock.

She always want to make you charming. Like an outing. Like a rabbit in the pant's pocket. Like a servant's prayer. Like nine koi fish in the face of the pond. Like a officer's restrained pace. Like eight horses splashed the tip of the ocean.

She shared your smile and starring in all direction. As a passion. As smooth of the tip of brush landing and sweeping many colors. As a sign for herself -- a time. As a miracle. As something that often makes you aghast and pretend: nobody there.

2016 

Comments

Popular posts from this blog

Menerjemahkan Lirik Lagu REM secara Bebas

Terjemahan Bebas Sajak - Sajak Octavio Paz

Ruang Sastra: Puisi untuk Rohingya