Seri Puisi: Kau Kuasai Kanvasku

Exquisite Corpse #2


Tuhan, jeritmu, Penjahit Sempurna.

Dunia adalah kolase kain perca.
Penuh corak & warna.
Di tubuhnya, kau tak henti berdarmawisata
-- mengendarai usia.
Mempelajari yang tak ada dan yang tak terhingga.

Cinta - jelujur benang itu - harus jadi garis
dan tanda, katamu, supaya kau tak sering bertanya
atau tersesat di dalamnya.

Tapi, menurutnya,
tak akan ada doa
tanpa ada yang terbuka
untuk menerima --

karenanya,
dia berikan tubuhnya
untuk kau jadikannya peta.

Bukan semata kain perca.

Meski kau cari juga potongan yang lain.
Kekosongan-kekosongan itu.

Dan kau cari juga penggenapan itu.
Meski sekadar kain peluh

di gerowong waktu.

2016


Exquisite Corpse #2


Lord, you cry, is the perfect tailor.

The world is a patchwork collage.
Full of shades and colors.
Upon it, you never stop travelling
-- driving ages.
Learning nothings and infinite.

Love - that baste of thread  - should be the line
and the sign, you say, for you not much to ask
nor get lost in that world.

But, she say,
there wouldn't be a prayer
without someone open 
to take it --

because of it,
she gives her body
to you as the map.

Not merely a patchwork.

Even you try to find another pieces.
That emptiness.

And you try to find a fulfillment of it.
Even only a pieces of napkin

in the hole of time

2016

Comments

Popular posts from this blog

Menerjemahkan Lirik Lagu REM secara Bebas

Terjemahan Bebas Sajak - Sajak Octavio Paz

Ruang Sastra: Puisi untuk Rohingya